Awalnya band ini bernama Ivy League, namun ternyata banyak hal lain yang juga bernama Ivy League. Misalnya, trio pop asal Inggris di era 60-70an juga menamakan diri mereka The Ivy League.
Untuk menghindari ambigu, duo pop Ivy League (era sekarang) merubah namanya manjadi This Is Ivy League. Sebelum merubah namanya, This is ivy league sempat membuat EP dan melahirkan "London Bridge" yang begitu danceable.
Simak 2 versi dari This is Ivy League - London Bridge Mana yang lebih bagus?saya suka versi Ivy League.
emang semua band harusnya begitu. demi persahabatan antara chris martin dan Danny McNamara. Chris martin rela memberikan lagunya untuk materi album Embrace [Out of Nothing]. Ga sia2, ternyata lagu yg dibawakan oleh Embrace sama bagusnya dengan versi Coldplay. Letak perbedaannya ada di liriknya. Walaupun dari nada dan judul yang sama namun sepertinya Chris Martin ogah terlihat monoton. Oleh karena itu Chris membuat perbedaan dari segi lirik.
EMBRACE "Gravity"
Honey, It's been a long time coming And I can't stop now Such a long time running And I can't stop now Do you hear my heart beating Can you hear that sound Cause I can't help thinking And I don't look down
And then I looked up at the sun And I could see Oh the way that gravity turns for you and me And then I looked up at the sky and saw the sun And the way that gravity pulls on everyone, on everyone
Baby, It's been a long time waiting Such a long, long time And I can't stop smiling No I can't stop now And do you hear my heart beating Ah can you hear that sound Cause I can't help crying And I won't look down
And then I looked up at the sun and I could see Oh the way that gravity turns on you and me And then I looked up at the sun and saw the sky And the way that gravity pulls on you and I, on you and I
Can you hear my heart beating Can you hear that sound Cause I can't help crying And I wont look down
COLDPLAY "Gravity"
Baby It’s been a long coming Such a long long time And I can’t stop running Such a long long time Can you hear my heart beating? Can you hear that sound Coz I can’t help thinking And I won’t stop now
And then I look up at the sun And I could see O the way that gravity pours On you and me And then I look up at the sky And saw the sun And the way that gravity pushes On everyone On everyone
Baby When your wheels stop turning And you feel let down And it seems like troubles Have come all around I can hear your heart beating I can hear that sound But I can’t help thinking And I won’t look now
And then I looked up at the sun And I could see Oh the way that gravity pours On you and me And then I looked up at the sky And saw the sun And the way that gravity pushes on everyone...
Berawal dari kegandrungan saya terhadap musik indie termasuk indiepop swedia. Mengantarkan saya untuk mendalami musisi indiepop swedia yang bernaung dalam sebuah label indie ternama di swedia yaitu Labrador Records. Labrador Records mungkin baru dikenal di Indonesia ketika dua kelompok musik yang bernaung dalam label rekaman tersebut yakni Club 8 dan Edson mengedarkan albumnya yang ditangani distribusinya oleh perusahaan rekaman indie asal kota Bandung, FFWD Records. Kerja sama antara Labrador dan FFWD menjadikan saya lebih membuka mata terhadap musik independen yang ada di luar sana.
Pada bulan Oktober 2005, saya mulai berkenalan dengan satu elemen dalam dunia internet. Elemen itu adalah download. Ketika itu, lagu pertama yang saya download untuk pertama kali yaitu Wheels Over Me yang dibawakan oleh kelompok musik asal Denmark, Mew. Sejak saat itu, entah ini dibilang kebiasaan buruk atau bukan, kegiatan mengunduh menjadi suatu kewajiban rutin bagi saya. Sasaran utama adalah musik indie dari beberapa negara yang memiliki akar indie yang kuat seperti Amerika Serikat, Kanada, Inggris dan Swedia. Musik-musik popular seakan luput dari kemauan saya untuk diunduh. Acid House Kings merupakan kelompok musik Swedia favorit saya. Musik yang terdengar manis dan memiliki beat-beat yang seimbang membuat saya tertarik terhadap Acid House Kings. Bermula dari mengunduh beberapa lagu Acid House Kings di situs Labrador.se kemudian membuat saya terlena untuk mengetahui serta mengkoleksi seluruh lagu Acid House Kings yang pernah dirilis.
Saya sendiri bukan bermaksud jahat “membajak” seluruh karya dari Acid House Kings namun saya pernah mengirim email secara pribadi kepada manajemen Acid House Kings untuk mendistribusikan album-albumnya di Indonesia. Dengan begitu, saya bisa memiliki koleksi orisinil secara fisik.
Pada pertengahan tahun 2007, kecintaan saya akan musik-musik yang bernada ”renyah” ternyata tidak sampai sebatas itu saja. Penjelajahan saya dalam rimba musik dunia terus berlanjut. Lewat situs myspace Acid House Kings, saya lalu tertarik melihat sebuah nama kelompok musik yang ada di dalam daftar teman Acid House Kings. Nama kelompok musik itu adalah The Postmarks. Sejak saat itu saya mulai tertarik dengan kelompok musik tersebut. Suara vocal yang manja dan terdengar malas dari seorang wanita berwajah sederhana dan juga cantik bernama Tim Yehezkely serta aransemen yang halus dari Jon Wilkins dan Christopher Moll membuat perasaan saya terasa tenang ketika mendengarnya.
Perselingkuhan itu pun terjadi lagi. Maksudnya, saya mulai mencintai kelompok musik lain selain Acid House Kings. Sebenarnya, bukan satu-satunya kelompok musik yang saya idolakan. Sebelumnya saya sangat mengagumi Kings of Convenience dan sekutunya. Akhirnya, sampai sekarang ketiga kelompok musik tersebut selalu dalam pantauan saya.
Kembali ke masalah The postmarks. Masih di suatu hari yang sama ketika saya mulai mengenal The Postmarks, saya niatkan untuk mengunduh lagu-lagu dari The Postmarks. Goodbye adalah lagu pertama yang saya kenal. Masih dipertengahan 2007, dalam waktu seminggu saya telah mengunduh seluruh isi dari album perdana The Postmarks melalui sebuah situs torrent, isohunt.com. Lagi-lagi ini bukan maksud saya untuk membajak karena memang pada saat itu album The Postmarks belum didistribusikan secara umum di Indonesia.
Akhirnya pada awal 2008, saya mendengar kabar bahwa album perdana The Postmarks telah dirilis di Indonesia melalui FFWD Records. Doa saya pun terkabul untuk memiliki koleksi orisinil The Postmarks secara fisik. Tanpa harus berpikir panjang berapa tebal saku saya, akhirnya saya melesat dengan pasti mengarah ke sebuah distro ternama di Jakarta, Hey Folks!. Hey Folks! merupakan distro langganan saya untuk dapat membeli album-album indie yang saya inginkan. Selain tempat itu, saya juga kerap mengunjungi pasar taman puring. Karena di tempat itu, saya membeli album Zeke and The Popo secara orisinil dan dalam keadaan 100% baru dengan harga Rp.25.000. Rilisan artis-artis Labrador Records juga dapat ditemui di pasar taman puring. Datangi saja seorang penjual bernama Ari, maka ia akan menunjukkan koleksi album-album artis Labrador seperti The Radio Dept., Club 8, Pelle Carlberg dengan harga yang miring dan kondisi yang masih bagus.
Sepertinya musik tidak lagi menjadi dominasi untuk dunia barat. Berbagai jenis musik juga dapat ditemukan di benua Asia. Modernisasi membuat beberapa seniman Asia menciptakan sebuah terobosan yang dianggap progresif dan penuh idealisme.
Kompliasi ini hadir ketika rasa bosan akan musik-musik barat sementara itu muncul rasa penasaran yang besar mengenai musik indie di Asia. Awalnya mencoba mencari refrensi di berbagai situ seperti last.fm, myspace, tweenet, kemudian satu per satu saya kumpulkan dan diseleksi untuk dapat dimuat dalam kompilasi ini. Rasa bangga akan musik indie negeri sendiri semakin tinggi ketika sebuah jurnal milik salah satu warga negara Singapura(*) menyebut-nyebut beberapa musisi indie dari Indonesia dan sekitarnya yang memiliki potensi untuk bersaing dalam belantika musik dunia.
Dengan adanya kompilasi ini, semoga dapat menjadi acuan bagi anda semua untuk mengenal bagaimana musik indie yang ada di Asia. Hal ini dikarenakan musik-musik yang telah dipilih ini telah melewati tahapan yang singkat namun sangat cermat. Agar anda tidak kecewa saat mendengarkannya, maka saya pribadi mencoba memberikan yang terbaik untuk anda.
dalam sebuah etalase toko kaset bekas di bilangan taman puring, terpampang sebuah kover album yang terlihat keren dijamannya. Si penyanyi yang bernama Bagoes A.A. adalah sosok yang tidak asing dalam dunia musik indonesia 80an. dia juga adalah salah satu anggota dari Kelompok 3 Suara atau K3S. Lagu Om Pim Pa adalah lagu pertama dalam albumnya dia dan menurut saya adalah lagu paling unik dan bagus dalam album dari Bagoes A.A. yg berjudul "Ada yang Lain".
lagu ini sebenernya lagu baru, tapi udah laris dibikin covernya atau recyclenya. tercatat ada 5 artis atau lebih yg udah ngecover. ada james blunt, kanye west, the kooks, shugo tokumaru artisnya sendiri PBJ = peter bjorn and jhon, merupakan band asal denmark